Jumat, 04 November 2011

Alhamdulillah


Love you all the way….

(lirik disini senang disana senang)

(Ini segitiga! Ini segi empat!
Disini aku punya lingkaran!) 2x

(Tangan dilambai – lambai, Pinggul digoyang – goyang
Kaki dihentak – hentak, Putar badan) 2x

Melompat, berlari, menari, bergerak, dan berputar membuatku merasai tubuh menemukan energy-nya yang luar biasa. Kita serasa di-charge energy oleh yang Maha Kuasa. Semakin kita tebar banyak kegembiraan, maka akan semakin banyak kebahagiaan menghampiri kita.

Pagi berlalu, udara siang pun mulai menyengat. Bergegas kuselesaikan tugas – tugasku sebagai guru dan kupersiapkan buah hatiku untuk segera pulang ke rumah. Bersyukur aku mengajar di RA, jadi anakku bisa sekalian belajar bersamaku. Meski ada banyak nilai plus minusnya, namun aku tetap mengucapkan Alhamdulillah!
Mengendarai sepeda roda dua sejak zaman kuliah membuatku ingin terbang secepatnya agar sampai di rumah. “Hati – hati, Nda! Pelan – pelan!” pekik anakku jika dia mulai merasa tidak nyaman dalam boncengan.
“Ya, Nak!” sahutku sambil mengurangi kecepatan.

Kuletakkan tas kebangsaan sebagai guru di atas meja, kubanting tubuhku di atas sofa lapuk kesayangan ayah zakki, dan….

Prannggg!!!!
Aku terperangah, satu set moci kesayangan pecah berserakan di lantai. Terdengar teriakan buah hatiku yang berusia 27 bulan, aku meringis. Habis sudah moci gelas di rumah ini, kutahan tangisku agar airmata tak berjatuhan. Bergegas kupeluk buah hatiku sambil menenangkannya.
“Tidak apa – apa, Nak! Tidak apa – apa!” tegasku membisikinya.
Moci kesayangan itu adalah hadiah ultah pernikahanku yang keempat, buah hatiku masih menangis deras, aku diam berusaha menenangkan diri agar tak marah, kupeluk erat anakku dan kubisikkan, “I Love you, Nak! Everythings gonna be okay….”
Kuambil  sapu ijuk dan segera kutepikan pecahan moci di dinding, bekas tumpahan kopi yang menghitam di lantai segera kubersihkan dengan kain pel, namun aku tak kunjung membawanya ke tempat sampah di belakang rumah. 4 tahun, moci, dan cinta? Sepertinya terlalu na’if mengartikan moci yang pecah berarti cinta kami pun ambyar! Ya, teramat na’if!
Setelah aku tenang, tangis anakku pun mereda, mulailah aku mengajaknya berdialog.
“Zakki, coba ceritakan sama Bunda, apa yang sesungguhnya terjadi?” tanyaku mencari jawab.
“Bantu, Nda! Aku mau bantu, Nda!” cetusnya sambil sesenggukan.
Aku tercenung, luar biasa! Di usianya yang masih 27 bulan Zakki hendak membantuku? Ya, membantu Bundanya membawa moci yang kotor. Moci berisi kopi kusuguhkan untuk ayah Zakki dan tukang – tukangnya yang akan berangkat ke proyek pagi tadi. Setelah itu kami bergegas berangkat sekolah untuk melaksanakan pengabdianku sebagai guru RA. Dan ah….
Pulang sekolah, aku diberi hadiah empati luar biasa buah hatiku. Alhamdulillah….
Maka aku pun mulai me-replay apa yang sekiranya terjadi barusan. Rutinitas kami setiap pulang sekolah adalah, aku membuka pintu, melepas sepatu, masuk ke dalam rumah dan meletakkan tas di meja ruang keluarga, membantu zakki melepaskan jaketnya dan istirahat sebentar, setelah “fresh” kembali bergelut dengan tetek bengek urusan rumah tangga.
Hari ini, aku meletakkan tas dan langsung duduk tanpa membantu zakki melepas jaketnya. Di ruang tamu zakki memiliki gantungan jaket dan topi di sebelah pintu, maka saat ia berusaha melepas jaket sendiri ia akan melihat meja dalam keadaan kotor, satu set moci kesayangan -sekaligus moci terakhir yang masih utuh- teronggok dalam damainya di atas meja.
Memang aku mendengar bunyi ‘kletek-kletek’ di ruang keluarga, namun aku tak punya prasangka apa – apa, aku capek sekali dengan kegiatan yang menguras energy hari ini, kegiatan fisik motorik bersama anak – anak adalah fun things!
Dan terbelalaklah aku melihat buah hatiku membawa nampan berisi satu set moci kesayanganku berusaha memutar haluan, belok kiri memasuki ruang keluarga dimana aku tengah melepas lelahku, dan keseimbangannya pun goyah, maka terjun bebaslah mociku beserta gelas - gelasnya di lantai. Innalillahi wa inna ilaihi roji’uuun….
Teriakannya ketakutan membuatku merasa ‘jerih’, aku merasakan kekecewaannya karena gagal membantuku, aku merasai kesedihannya karena menghancurkan moci kesayanganku, namun tak ada yang lebih berharga daripada proses belajarnya akan ‘sesuatu’.

Dalam sebuah episode lain saat kami menonton film “Sang Pemimpi”, ada satu momen yang membuatku menangis haru, saat Ikal berlari mengejar ayahnya sepulang penerimaan rapor setelah dia merasai mimpinya tak berarti sehingga ia hamper saja meninggalkan pendidikan SMA-nya, rasa bersalah, menyesal, kecewa karena mengecewakan sang ayah, dan juga pertaubatan dari Ikal sangat mencekam, ketika Ikal berhasil mengejar sang ayah, dia mencium tangan ayah dan mereka pun berpelukan, airmataku bercucuran karena terharu biru.
“Kenapa, Nda?” tanyanya.
“Bunda terharu, Nak!” bisikku sambil memeluknya.
Zakki berusaha melepaskan diri, “Sakit ta?”
“Ya!” sahutku sambil menekan dadaku.
“Kuambilkan mimik putih, Nda!” katanya sambil bergerak menuju dispenser. Aku diam tak bergeming. Kutekuk kaki di atas kursi, kupeluk erat lututku sambil menyenandungkan dzikkir penenang hatiku. Dan, subhanalloh! Dia datang membawakanku segelas air putih, sambil berkata, “Minum, Nda!”
“Terimakasih, Nak! Maturnuwun….”
Maka tetes airmataku semakin deras mengalir karenanya….

Aku pernah merasai betapa kehadiran buah hatiku bersamaku saat mengajar di RA sangat mengganggu, dalam usianya yang masih 17 bulan kala itu, dia sudah bisa melakukan “demo” saat kutinggal di neneknya, padahal dari usia 3 bulan, nenek dan kakeknya-lah yang selalu menjaganya selama aku melaksanakan tugasku.
Meminta permakluman dari semua rekan guru dan wali muridku, akhirnya aku pun membawanya serta bersamaku. Seumpama karena itu aku harus mengakhiri pengabdianku di RA, maka aku ikhlas karena ‘anakku’ lebih penting bagiku. Tanpa bermaksud mengesampingkan anak – anak yang berada di naunganku. Alhamdulillah, aku bisa melewatinya dengan baik meski dengan banyak gangguan dan halangan di sana – sini. Tetapi itu semua masih dalam takaran wajar.

Melihatnya bertumbuh bersama dengan anak – anak lain yang jauh lebih tua darinya, tak membuatnya takut, bahkan cenderung membuatnya nyaman dan mudah bergaul, calon pembelajar tangguh, meski tak urung kenakalan – kenakalan kecil masih dilakukannya yang seringkali membuat mukaku berwarna merah, kuning, bahkan ungu. Daya tangkapnya yang luar biasa (bagiku : red) membuatku seringkali terkejut.

“….ya…akui…idak….ada….tuan….cuali…alloh!” cedalnya mencetuskan sesuatu saat bersamaku.
Aku masih sibuk dengan laptopku. Dia mengulang lagi sambil mengepalkan tangannya. Surprise! Itu adalah gerakan saat anak – anak membaca syahadat di waktu pagi.
Maka aku pun berkata, “Coba ulangi, Nak?”
“….ya…akui…idak….ada….tuan….cuali…alloh!” cedalnya dengan tangan terkepal penuh semangat.
Maka aku pun mencoba membenahi artikulasi bahasanya, “Saya mengakui tidak ada Tuhan kecuali Alloh!”
Dan tawa bahagianya pun bergema karena aku menangkap maksud perkataannya, bahkan bersedia mengulanginya agar lebih jelas maksud perkataannya.

Duhai anakku…. Mencintaimu, berarti belajar menerima, berkembang bersama penerimaan itu dan mengoptimalkan apa yang kau mau sesuai potensimu anakku, bukan hanya kemauan Bunda semata. Tegas kukatakan, “Love you all the way my little boy…. Bunda selalu berdo’a yang terbaik untukmu….” Bisikku terharu.

Sampai kapan pun sebentuk cinta Bunda pada buah hatinya adalah cinta sejati yang tak akan pudar mewarnai dunia sepanjang masa.


Dewi Mora Rizkiana (Nama asli dan akun FB)
Jl wijaya barat 165
Rt/Rw 3/3 kelurahan Pagentan
Singosari malang 65153
08179655779